Orangtua dan Orang dengan berkebutuhan khusus
Saya akan memulai pembahasan ini dengan bertanya lebih dahulu,
Apa itu berkebutuhan khusus ? Siapa yang dimaksud dengan berkebutuhan khusus?
Berkebutuhan khusus adalah sebuah kondisi bukan diagnosa jadi jangan terjebak dengan diagnosa, diagnosa akan membantu kita menentukan penanganan apa yang tepat terhadap anak tersebut namun kebutuhan khususnya yang menentukan bagaimana pendekatannya.
Beberapa area yang jika terganggu akan menyebabkan anak memiliki berkebutuhan khusus • Penglihatan • Pendengaran • Gerakkan • Sosial • Komunikasi
Kebutuhan khusus terhadap situasi yang tenang saat harus belajar Kebutuhan khusus untuk belajar dengan pendekatan yang visual Kebutuhan khusus untuk diberikan instruksi secara berlahan Kebutuhan khusus belajar sambil bergerak , dan seterusnya
Anak dengan diagnosa tertentu bisa jadi hanya dapat di tangani dengan cara tertentu / penangan tertentu namun pendekatannya bisa dalam bentuk apapun yang sesuai dengan kebutuhan dan kemampuan anak tersebut.
Kebutuhan khusus seorang anak belum tentu memiliki penanganan yang sama untuk tiap individu
Contoh 1 Anak dengan diagnosa Thalasemia maka salah satu penanganannya dengan transfusi darah, kebutuhan khusus anak dengan thalasemia mungkin bagaimana membangkitkan semangat hidup, bagaimana dia merasa di sayangi dan banyak yang peduli, atau kebutuhan dia untuk melihat lebih jelas sehingga butuh kacamata.
Contoh 2 Anak dengan diagnosa autistik, penanganan yang paling diakui adalah metode ABA sedangkan untuk kebutuhan khususnya bisa berbeda pendekatan, ada anak yang harus belajar di ruang yang tanpa distraksi, atau ada yang harus belajar sambil bergerak, ada yang harus di dekati dengan cara bermain, ada ada yang bisa belajar kalau semuanya terstruktur dan terprediksi dan sebagainya.
Sekarang, dimana peran orangtua dalam hal ini? Merawat dan mendidik
Merawat artinya orangtua menyiapkan sepenuhnya sampai anak tersebut mulai bisa menolong dirinya sedikit demi sedikit, jadi sampai usia berapa? Sejak dini anak sudah bisa di ajarkan menolong dirinya, bahkan bayi sekalipun, misalnya bayi yang diajarkan bahasa tubuh ( gerakkan tangan ) untuk meminta makan ( dari pada menangis ) maka ini adalah salah satu cara untuk bertahan hidup, banyak yang tidak sepaham dengan hal ini, karena dianggap terlalu kaku dan keras. Coba lihat Nick Vujicic, bagaimana orang yang tidak memiliki tangan dan kaki menjadi seorang yang mampu menjadi pembicara international dan mampu melakukan olahraga renang dan bola, dan kita bisa liat contoh – contoh lainnya, coba sesekali baca bagaimana mereka di besarkan, kalau saya melihat orang dewasa yang memiliki keterbatasan luar biasa maka yang pertama saya cari adalah bagaimana orangtua membesarkannya.
Kesalahan yang umum terjadi karena kebiasaan yang hanya merawat bukan mendidik Makan 1. Anak disuapi – supaya cepat dan rapi 2. Anak hanya makan makanan tertentu – daripada ga makan sama sekali, nanti sakit 3. Makan harus sambil jalan – kalau ga sambil jalan ga mau makan Anak di dimandikan 1. Takut tidak bersih 2. Takut anak menghabiskan sabun dan shampoo 3. Takut anak jatuh 4. Takut jadi lama Bermain 1. Diatur 2. Diarahin 3. Takut tertular jadi nakal 4. Takut dibully Komunikasi 1. Berbicara atas nama anak – ayo bilang terima kasih, ayo bilang apa kabar, dll 2. Mengarahkan di depan umum
Mendidik itu ada didalam semua aspek membesarkan dan merawat anak, jadi mendidik itu seharusnya mudah untuk di lakukan. Pendidikan itu artinya bukan hanya mengisi botol yang kosong atau mencoret kertas yang putih namun jauh dari itu adalah membuat anak itu bisa berpikir sendiri dan memiliki keputusan sendiri. Merawat dan mendidik seharusnya bisa berjalan bersamaan kalau orangtua dan lingkungan siap membantu anak tersebut.
Ketika kita akan mendidik maka kita tidak boleh kosong, kita harus banyak membaca dan belajar dari mana pun namun dengan satu catatan PENTING, ikut workshop, training dan seminar harus datang dengan pemikiran “ saya ingin belajar “ bukan datang dengan pertanyaan, “ saya mau cari solusi untuk anak saya “ ----- kedua hal ini sangat berbeda, karena bisa saja seminar yang kita ikuti tidak tepat dengan kondisi anak kita saat ini namun akan cocok pada satu masa, jadi datang dan ikutilah seminar / workshop tersebut dengan pemikiran saya mau belajar, karena kalau mau jujur kita tidak bisa mendapatkan jawaban yang pas walaupun bertanya pada seorang ahli sekalipun, terkadang kita bisa dapat ‘ AHA ‘ moment setelah bertanya ke 10 orang, bisa ke 3 orang atau baru orang pertama, kenapa bisa begitu itu karena proses belajarnya yang beda – beda, jadi jangan habiskan waktu berlama – lama bertanya untuk mendapat jawabannya, bertanyalah supaya pintar dan memiliki wawasan luas.
Semoga di seminar berikutnya atau seperti sekarang ini dengan banyak kelas online, tidak bertanya ‘ kalau anak saya seperti ini…… ‘ bertanyalah sesuai dengan topik yang sedang di jelaskan, kalau yang sedang di jelaskan bagaimana langkah – langkah membuat puisi maka pertanyaan yang tepat adalah ‘ adakah kata yang tidak boleh di gunakan dalam sebuah puisi ‘ bukan pertanyaan ‘ bagaimana dengan puisi saya mengenai bunga apakah saya boleh menambahkan prosa ‘ ---- maka teori yang diberikan bisa jadi bukan membuat puisinya menjadi lebih baik malah bisa jadi menghilangkan jiwa dari puisi tersebut.
Misalnya kita ikut seminar tema penanganan anak di rumah maka bertanyalah ‘ ada berapa jenis penanganan yang bisa di terapkan di rumah /’, ‘ apakah penanganan di sesuaikan dengan usia?’ , jangan bertanya ‘ anak saya masih tantrum bagaimana cara menanganinya di rumah ?’ karena tidak ada satu jawaban pun yang akan memenuhi kebutuhan pertanyaan ini terutama kalau narasumbernya tidak melihat kondisi anak langsung, maka bisa jadi teori yang diberikan seperti obat bagi sebuah penyakit yang belum tentu menyembuhkan, bisa jadi malah memperparah.
Satu hal PENTING, cara pandang seperti, anak saya masih tantrum, anak saya masih melempar barang, anak saya masih suka gigit, nangis, bernyanyi sendiri, memainkan barang secara monoton, kalau kita melihat perilaku ini semua sebagai sesuatu yang harus di perbaiki maka akan panjang perjalanannya untuk mendapatkan jawaban yang tepat, namun kalau kita mulai dengan pertanyaan ‘ kenapa dia melakukan hal tersebut ‘ maka kita berusaha memahami dari sudut pandang anak tersebut, dari kebutuhannya dari keterbatasannya.
Mungkin dia lempar karena kesulitan, ouh okay , saya akan mempermudah, mungkin karena dia lelah.. ouh akan saya kasih istirahat, kalau dia stress maka saya akan kurang soal yang diberikan ----- pertanyaan yang muncul berikutnya adalah… bu bagaimana kalau anak itu jadi kebiasaan untuk escape--- disinilah yang menjadi halangan kedua karena kita membuat kacamata kita terhadap anak tersebut, kalau anak tersebut teriak – teriak karena dia merasa pelajarannya sulit terus kita kurangi maka besoknya naka masih teriak – teriak karena dia pikir akan di kurangi kembali, maka yang jadi pertanyaan berikutnya sebenarnya kita percaya ga sich dengan anak kita sendiri, lalu anak itu percaya ga sich sama kita bahwa kita sedang membantu dia bukan mempersulit hidupnya selain itu kita juga harus bertanya sebenarnya anak ini sudah siap ga sich dengan pelajaran ini? kesiapan itu bukan hanya secara akademik namun juga kognitif dan regulasi diri, kognitif itu tidak melulu akademik, karena kognitif itu berhubungan dengan bagaimana dia mengelola satu masalah, kalau dia merasa kesulitan apakah dia harus berteriak, maka yang bisa kita ajari juga ke anak adalah bagaimana dia meminta bantuan.
Kemampuan kognitif akan membantu anak dalam membentuk kemampuan akademik, kemampuan kognitif ada di aktivitas di rumah, paling sederhana pada kemampuan eksekutifnya, bagaimana dia merencanakan sampai mengeksekusi ketika mau makan ikan yang durinya banyak, atau ketika mandi ternyata lupa bawa handuk. Terapi = usaha untuk memulihkan kesehatan orang yang sedang menjalankan perawatan (KBBI) Perilaku = reaksi individu terhadap rangsangan atau lingkungan (KBBI) Terapi Perilaku = adalah usaha untuk membuat reaksi individu sesuai dengan rangsangan dan lingkungan ( SB ) 1. Terapi bisa di lakukan oleh siapa saja 2. Terapi dapat dilakukan dimana saja 3. Terapi dapat dilakukan kapan saja Tujuannya, agar satu individu memiliki makna hidup yang lebih dan dapat merespon terhadap lingkungannya.
TIPS untuk orangtua
Pertama, Kenali diri, kemampuan diri dan kebutuhan diri Kedua, Orangtua sudah selesai dengan diri sendiri, tidak ada marah, tidak ada kecewa, tidak ada ketiga, Ikuti training yang melatih diri sebelum memberikan terapi ke anak --- bagaimana bermain dengan anak, bagaimana membangun hubungan, bagaimana memiliki koneksi dan lainnya keempat, Ikuti training mengenali perkembangan anak sebelum memulai sebuah metode pendekatan ke anak sehingga metode tersebut sesuai dengan perkembangan anak sendiri Kelima, ketika 1 - 4 telah di lakukan maka menuju ke 5 yaitu terapi akan jauh lebih mudah
Penerimaan diri terhadap situasi dan kondisi serta kemampuan melewati fase transisi di setiap episode kehidupan
NOTES Jangan berusaha memperbaiki orang dengan kebutuhan khusus karena mereka bukan barang yang harus di perbaiki, mereka hanya perlu di bantu untuk memiliki kesempatan yang sama.
salam hormat untuk semua orangtua

Comments