Cita-cita menjadi Tuhan.
Saya waktu kecil bercita - cita pengen jadi Tuhan, dalam artian pengen banget tau isi kepala orang dan isi hatinya.... Namanya juga anak kecil ...cita - citanya suka aneh aneh...apa cuman saya yang aneh
Okay kembali kepembahasan
Saya menemukan cara untuk "menjadi tuhan" dengan masuk psikologi, namun karena tidak di izinkan untuk jauh lebih dalam oleh keluarga, jadi saya malah berada di psikologi pendidikan bukannya klinis, namun hal ini tidak mengurangi rasa penasaran saya terhadap manusia.
Ketika mulai mempelajari maka hal paling mudah dimulai dengan mempelajari diri sendiri.
Namun saya menemukan dalam psikologi manusia seperti di kategorikan dalam kotak - kotak baku, dalam bentuk tahapan, dalam bentuk segitiga dan lainnya.
Hal tersebut memang memudahkan untuk mengenali kemudian menemukan pendekatan yang tepat.
Yang saya temukan.
Manusia itu terdiri dari daging, otot, darah dan alat vital lainnya, semua ini yang membentuk kerangka yang baik, semacam casingnya, kalau casingnya bagus maka tampilannya pun akan menarik.
Bagian internalnya ada hormon dan bakteri, kita memiliki kurang lebih 50 hormones dalam bentuk kimia yang di pengaruhi oleh apa yang kita konsumsi dan pola hidup lainnya, hal ini juga akan menentukan bakteri dalam tubuh manusia, apakah lebih banyak bakteri baik atau bakteri jahat, jumlah total bakteri dalam manusia ada 70 triliun, jumlah yang sangat banyak untuk menentukan cara kita berpikir dan berperasaan dan lagi - lagi pola hidup dan pola makan yang akan mempengaruhi populasi bakteri ini. Bakteri dan hormon ini akan menentukan apalah kita mudah marah, baper, stress atau depresi atau sebaliknya. Posisi mereka ada di otak dan perut (otak kedua ).
Kemudian hal di luar manusia ada yang namanya, adat, norma agama, norma sosial, yang mempengaruhi ini dalam ranah psikologi lingkungan.
Psikologi belajar juga memiliki peran dalam pembentukan karakter, dengan mengatakan manusia di bentuk dari proses belajarnya.
Teori psikologi perkembangan akan mengatakan awal perkembangan yang banyak menentukan di dukung oleh psikoanalisa.
Jadi.....
What makes us, us??
Apa yang membuat saya, menjadi saya???
Siapa anda?
Bagaimana karakter anda?
Apa tujuan hidup anda?
Bagaimana anda melihat hidup anda sebelum dan masa depan?
Manusia itu sangat unik ketika dia menyadari kehebatannya dan apa yang bisa dilakukan, kalau tidak menyadari maka kita akan masuk kedalam kolom - kolom yang di ciptakan oleh para ahli.
Hasil penemuan mengatakan bahwa manusia baru menggunakan 10% otaknya dan itu baru Albert Einstain, sedangkan dikatakan kalau saja kita punya keyakinan sebesar biji sesawi, kita bisa memindahakan gunung, katanya manusia lebih hebat dari iblis sekalipun.
So........
Gunakan kolom - kolom yang telah di ciptakan sebagai preventif, namun kalau kita sudah masuk usia 18 tahun keatas, ciptakan diri mu sendiri, tentukan sendiri, just be you, kita punya kuasa atas diri kita sendiri, kita yang menentukan apakah hari ini saya mau bahagia, apakah besok saya akan berusaha lagi, apakah tahun depan kalau saya jatuh akan bangkit lagi, apakah kegagalan adalah jawaban atas kebenaran yang tertunda, manusia itu sangat dinamis....kalaupun pada saat ini usia sudah masuk 30, 40, 50 atau 60 ..... Waktu untuk merubah, meraih cita - cita, mencintai diri sendiri, memilih hal yang benar masih terbuka.
Jangan mau jadi produk akan apapun....entah produk masa lalu, entah produk lingkungan, entah produk apapun, ciptakan diri mu sendiri, dengan memperhatikan apa yang menjadi penopangnya, yaitu yang di awal saya bahas, kerangka ( daging, otot, darah dll), hormon, bakteri dan terakhir jiwa.
Jiwa manusia yang menyakini ada hal yang lain lebih berkuasa dan maha pelindung akan membawanya ke rasa aman dan nyaman, sehingga menghindari dirinya dari persepsi yang akan membawanya kedalam hal yang tidak baik atau merugikan.
Jadi
Jaga tubuh karena itu casing kita, dia ga sehat kita juga ga akan sehat.
Jaga hati/ jiwa sehingga kita selalu positif dan hanya akan selalu positif.
Katakan saya bukan hasil sebuah produk....saya memilih untuk menjadi saya ( pribadi saya saat ini ) dan menjadi orang yang lebih baik dari saya tiap harinya.
Ketika kita sudah mengenal diri kita, barulah kita bisa melihat anak kita lebih jelas dan terang menderang, karena kita menjadi walinya, perpanjang tangan Tuhan dalam menjaganya, sehingga ketika merawat dan mendidik anak bukan lagi mengenai diri kita atau ego kita, tapi semua tentang anak.
Selamat hari pekan.
Namaste.

Comments